Kamis, 08 Februari 2018

Mengamati Gaya Belajar Anak (day 4)

Masih sulit mengklasifikasikan gaya belajar Bilal di umurnya yang baru 2tahun 9 bulan.
Dia selalu bergerak menyibukkan diri sehingga ketika hanya melihat sesekali saja, kebanyakan orang langsung melabeli Bilal termasuk kinestetik.

Bilal suka berbicara. Ketika berbicara muka dia ekspresif sekali, tangannya juga ikut bergerak.
Kalau kita tidak merespon biasanya akan ditambah dengan gerakan-gerakan mencari perhatian.
Seperti kemarin, saya sedang berbicara dengan Pandanya kemudian Bilal juga mengajak berbicara. Saya hanya merespon sedikit dengan anggukan dan meneruskan pembicaraan dengan Panda.

Berkali-kali mukaku ditarik dihadapkan ke mukanya. Sadar kalau dia butuh perhatian, saya menghentikan obrolan.
"Bilal, tadi bunda ngomong sama Panda dulu. Kalo ada yang sedang ngomong, tunggu sebentar. Kalo menyela itu mengganggu. Bunda sudah selesai sama panda. Bilal mau ngomong apa?"
"Bunda tidak mendengar..", jawabnya
"Bunda minta maaf ya, bunda mau dengar"
Lalu dia mulai bercerita panjang lebar.

Kalau tipe kinestitek dikatakan bahwa cirinya ialah pelan ketika berbicara, tapi saya rasa Bilal tidak seperti itu..bicaranya cepat.
Satu lagi, Bilal mudah terganggu ketika ada yang menyela juga. Sementara ciri tipe kinestetik ialah tidak mudah terganggu keributan. Naah..makin bingung kan? 😁
Lanjut observasi...

Share:
Continue Reading →

Rabu, 07 Februari 2018

Cemilan 2: Kapan Gaya Belajar Mulai Dimiliki Anak?

_Camilan 2_
Rabu, 7 Februari 2018

*Tipe Gaya Belajar -Kapan Gaya Belajar Mulai Dimiliki Anak?*

📚📚🏆🏆📚📚

Camilan kali ini, kita akan membahas secara spesifik tentang *Tipe Gaya Belajar* dan
 *Kapan Gaya Belajar Mulai Dimiliki Anak?*

Biasanya, gaya belajar anak mulai terlihat jelas dan konsisten pada usia di atas 3 tahun.

Pada saat itu anak mulai menunjukkan cara belajarnya yang efektif karena rentang perhatiannya sudah berkembang cukup baik dan fungsi-fungsi penunjang belajar lainnya, seperti kemampuan motorik dan postur tubuh, juga sudah berkembang siap untuk mengolah informasi.

Orangtua dapat mengamati dari kegiatan anak sehari-hari, terutama bagaimana anak menerima informasi baru, mengingat, dan memahaminya.

Biasanya anak akan menunjukkan satu gaya belajar yang dominan, artinya ia akan lebih efektif menggunakan gaya belajar tersebut untuk dapat memahami pengetahuan atau menguasai keterampilan.

*Faktor yg mempengaruhi gaya belajar anak*:

 1. *Faktor Bawaan*.
🏄🏃🏂🏊
Misalnya jika ada seorang anak memiliki fisik kuat dan prima sehingga cenderung memiliki gaya belajar kinestik.
🎶🎵🎤🎼🎻🎸🎺
Atau ada juga anak yang memiliki rasa seni tinggi sehingga gaya belajar visual lebih melekat dalam dirinya.

Jika salah satu indra kurang berfungsi secara maksimal, maka umumnya indra lain akan menggantikannya.

Jika penglihatan seorang anak kurang berfungsi, maka indra pendengarannya lebih menonjol sehingga ia lebih peka terhadap suara atau bunyi-bunyian.

Contohnya, para penyandang tunanetra biasanya memiliki indra pendengaran yang sangat tajam.

2. *Pola Asuh*.

Maksudnya, gaya belajar ditentukan oleh sejauh mana orang tua melakukan stimulasi terhadap masing-masing indra anaknya.

🎭🎭🎭
*Anak yang sejak kecil terbiasa dibacakan dongeng*, boleh jadi akan terbiasa untuk mengasah kemampuan pendengarannya.
Ia juga bisa cepat mencerna ucapan sang pendongeng. Akibatnya, anak akan cenderung menjadi seorang auditory learner dalam gaya belajarnya.

🎨🎨🎨
*Sementara anak seorang pelukis*, yang mayoritas waktunya lebih tercurah untuk mengamati detail-detail gambar orang tuanya biasanya akan menjadi seseorang dengan tipe belajar visual.

*Sebenarnya Apa Sih Definisi Gaya Belajar Itu?*

Gaya belajar mengacu pada cara belajar yang lebih disukai pembelajar.

 "Umumnya, dianggap bahwa gaya belajar seseorang berasal dari variabel kepribadian, termasuk susunan kognitif dan   psikologis latar belakang sosio cultural, dan pengalaman pendidikan". (Nunan, 1991: 168).

"Keanekaragaman gaya belajar siswa perlu diketahui pada awal permulaannya diterima pada suatu lembaga pendidikan yang akan ia jalani. Hal ini akan memudahkan bagi pembelajar untuk belajar maupun pembelajar untuk mengajar dalam proses pembelajaran. Pembelajar akan dapat belajar dengan baik dan hasil belajarnya baik, apabila ia mengerti gaya belajarnya. Hal tersebut memudahkan pembelajar dapat menerapkan pembelajaran dengan mudah dan tepat." ( Kolb 1984 ).

*Tipe Gaya Belajar*

*Menurut Howard Gardner*, modalitas belajar tersebut dapat dikarakteristik menjadi gaya belajar Auditory, Visual, Reading dan Kinesthetic.

Namun ternyata ada beberapa *7 tipe gaya belajar* yang dipaparkan dalam materi Diklat PAUD yang diselenggarakan oleh HIMPAUDI Kab. Bantul tahun 2009.
*Apa 7 Tipe Itu?*

(1) *Linguistik*

*Berpikir*: Dalam kata-kata.
*Menyukai*: Membaca, menulis, menceritakan, bermain kata-kata, dsb.
*Membutuhkan*: Buku-buku, kertas, diary, dialog, diskusi, cerita-cerita, dsb.

(2) *Logika-Matematis*

*Berpikir*: Dengan menalar.
*Menyukai*: Bereksperimen, menanyakan, mengatasi teka-teki logika, menghitung, dsb.
*Membutuhkan*: Benda-benda yang dapat diselidiki dan dipikirkan, materi-materi ilmiah yang dapat diutak-atik, kunjungan ke planetarium atau museum ilmiah.

(3) *Ruang*

*Berpikir*: Gambar-gambar.
*Menyukai*: Merancang, menggambar, memvisualisasikan, dsb.
*Membutuhkan* : Seni, logo, video, film, slide, permainan imaginasi, maze, puzzle, buku-buku ilustrasi, kunjungan ke museum.

(4) *Fisik*

*Berpikir*: Melalui sensasi somatik.
*Menyukai*: Berlari, melompat, membangun, menyentuh, dsb.
*Membutuhkan*: Permainan peran, drama, gerakan, benda-benda yang bisa dibangun, olah raga dan permainan fisik, dsb.

(5). *Interpersonal*

*Berpikir*: Dengan memantulkan ide-ide mereka terhadap orang lain.
*Menyukai*: Memimpin, berorganisasi, berelasi, menengahi, dsb.
*Membutuhkan*: Kawan, kelompok permainan, perkumpulan sosial, acara komunitas, atau klub.

(6) *Pribadi*

*Berpikir*: Jauh ke dalam dirinya.
*Menyukai*: Membentuk tujuan, menyendiri, bermimpi, berdiam diri, dan berencana.
*Membutuhkan*: Tempat-tempat rahasia, waktu sendirian, proyek-proyek pribadi, pilihan-pilihan.

(7) *Alam*

*Berpikir*: Dengan analogi yang ada di alam.
*Menyukai*: Berada di alam.
*Membutuhkan* : Bereksplorasi bebas, berhubungan, dan menyentuh tanah, air, hewan, dan angin.

Sedangkan, *Funders and Founders* mendeskripsikan gaya belajar dalam 9 tipe.

*Apa 9 Tipe Itu?*

*1. Visual*

Ini adalah tipe orang yang banyak belajar dan memahami sesuatu dengan melihat.

Buku, foto, video, diagram, serta berbagai materi visual yang menarik pasti akan dia lahap.

*2. Auditory*

Tipe orang yang mudah mengingat ucapan orang lain dan penjelasan verbal.

Tipe ini bisa menangkap pelajaran dengan menyimak penjelasan dosen dan guru di kelas. Atau bisa juga mendengarkan rekaman suara yang membahas materi pelajaran.

*3. Kinestetik*

Tipe belajar dengan mengandalkan aspek fisik dan gerakan.

Tipe ini butuh memegang dan merasakan hal-hal yang dia pelajari, nggak sekadar melihat atau mendengar materinya.

Biasanya, sih,  senang belajar dengan bantuan alat peraga, praktek langsung di lab, atau dengan flash card (kartu yang berisi materi pelajaran). Seenggaknya, flash cardmembuat suasana belajar lebih menarik, karena tipe ini jadi bisa menyentuh kartu serta menggerakkan tangan.

*4. Memanfaatkan Stres*

Ternyata stres itu nggak melulu berakibat negatif. Malah, ada orang yang lebih fokus belajar saat stres. Banyaknya tugas dan ujian justru memacu tipe ini menjadi berprestasi.

Pelajar tipe ini bisa mengelola stres dan tough menghadapi situasi under pressure. Bahkan mereka justru butuh tantangan. Sebaliknya, kondisi santai bakal membuatnya lemah.
Trik untuk pelajar tipe ini adalah pasang target, supaya selalu terpacu untuk memenuhinya.

*5. Serba Relaks*

Kebalikan dengan tipe sebelumnya, pelajar tipe malah bisa performdengan baik saat merasa nyaman dan santai. Jadi dia harus membangun suasana yang relaks untuk belajar.

Olahraga, aromaterapi, camilan sehat bisa membantu membangun suasana jadi menyenangkan.

*6. Menulis*

Rahasia tipe ini untuk menyerap pelajaran adalah dengan menuliskannya. Bisa dengan menulis catatan di kelas, bikin rangkuman, menjawab latihan pertanyaan dan lain sebagainya.

Tipe ini, biasanya sebelum ujian,  menyalin rangkuman pelajaran.

*7. Menyimak orang yang terpercaya/berpengaruh*

Kalau guru/orang yang menyampaikan pelajaran tampilinspiring dan bisa berkomunikasi dengan baik, maka pengaruhnya akan sangat terasa untuk tipe ini.

Proses belajar tipe ini akan efektif jika menyimak orang yang kompeten/berpengaruh. Alhasil, tipe ini perlu mencari guru atau pembimbing yang benar-benar bagus serta dapat menerangkan dengan baik dan jelas.

*8. Mengajar*

Cara belajar yang paling efektif untuk tipe ini adalah dengan mengajari orang lain. Menelaah pelajaran kemudian menyampaikannya ke orang lain, bikin makin cepat menguasai materi tersebut.

Makanya, banyak yang bilang kalau ngajarin orang lain justru bikin tipe ini makin pintar.

*9. Meniru*

“Learning by doing exactly the same thing”, itulah tipe ini. Dengan meniru, bisa menguasai dan memahami suatu materi. Artinya,  perlu contoh yang bagus.

Untungnya, berkat Youtube, medsos dan perkembangan teknologi, menemukan guru/ tutor untuk diikutii nggak susah lagi.


Demikianlah tipe gaya belajar mudah-mudahan dapat menjadi bahan acuan kita untuk menentukan cara belajar yang baik dan pas untuk kita sehingga mampu menyerap pelajaran dengan baik.

Nah sekarang mana gaya belajar anda, pasangan atau anak anda?

Referensi:
1. https://emirina.wordpress.com/2009/03/17/gaya-belajar-pada-anak/
2. https://www.google.co.id/amp/s/blog.ruangguru.com/7-gaya-belajar%3fhs_amp=true
3. http://ummiummi.com/7-gaya-belajar-anak
4. http://www.parenting.co.id/usia-sekolah/gaya+belajar+anak
5. https://www.youthmanual.com/post/dunia-sekolah/akademik/9-gaya-belajar-dan-menghafal-kamu-termasuk-tipe-yang-mana
Share:
Continue Reading →

Mengamati Gaya Belajar Anak (day 3)



Ada beberapa ciri tipe auditory yang sering ditampilkan Bilal ketika berinteraksi dengan kami. Salah satunya ialah pembicara yang fasih.

Bilal alhamdulillah masya Allah sudah lancar berbicara sejak usia 18bulan.
Caranya berbicara juga mengikuti nada yang sering dia dengar, terutama dari bahasa ibunya. 
Maka sebagai orangtuanya kami harus selalu menjaga lisan karena tiap saat anak dalam mode meniru, termasuk apa yang dia dengar.

Bentuk Ikhtiar kami agar telinganya terbiasa mendengar asma Allah adalah dengan membiasakan mengucapkan lafadz dzikrullah dimana saja dan situasi apa saja, dan mengajak membaca doa sehari-hari. 

Tidak pernah kami menuntut dia harus menghapal doa dan bacaan-bacaan tersebut. Tapi alhamdulillah ada saja yang tertanam.

Kemarin (Selasa, 6/2/2018) ketika naik mobil dalam perjalanan tiba-tiba Bilal menghapal doa bangun tidur 😅.
Kalo mau di-pas-pasin sih...memang waktu itu baru beberapa menit setelah dia bangun (sempat ketiduran di mobil setelah lelah melompat-lompat)😅.

Ciri lain yang sering ditunjukkan Bilal ketika berbicara, matanya selalu melirik ke kiri-ke kanan.

Ketika sedang berbicara kemudian ada suara lain yang menginterupsi, biasanya langsung buyar dan lupa atau bingung mau ngomong apa, hehe..

Saya lebih senang mengobservasi kejadian-kejadian unik alami yang Bilal tunjukkan seperti ini ketika merespon sesuatu atau stimulus yang diberikan.
Saya siap mencatat tiap temuan yang ada!!
Sekian dulu lah hasil pengamatan hari ketiga 😬😬😬
Share:
Continue Reading →

Selasa, 06 Februari 2018

Mengamati Gaya Belajar Anak (day 2)

Hari Senin kami melakukan perjalanan mengendarai mobil travel dari Kab. Pinrang, Sulawesi Selatan menuju Bandara Sultan Hasanuddin Makassar. Kami hendak pulang ke Surabaya setelah menghadiri acara nikahan adek saya di Makassar.

Perjalanan yang cukup panjang. Kurang lebih 4 jam lamanya. Bilal sepanjang perjalanan terus bercerita, dan melompat-lompat di kursi mobil.

Kami sengaja menyewa 3 kursi agar lebih nyaman tanpa perlu memangku Bilal, jika tertidur pun bisa lebih leluasa.
Nyatanya..2 jam perjalanan Bilal asyik bermain dan mengomentari apa saja yang dia lihat.
"Bunda..kita naik jembatan. Ada sungai di bawahnya. Huaaa..ada perahu. Disanaaa", "Ini dimana bunda? Kita naik ke punjak gunung kah?", Seru Bilal berkali-kali. Jika mataku mulai tertutup, dia membangunkan. "mataharinya sudah terang",katanya.

Karena terus melompat di kursi sementara mobil melaju,saya minta dia untuk duduk tapi tidak juga menurut. Hingga ketika hampir terjatuh baru Bilal mau duduk dan memintaku untuk memegang tangannya.
Pandanya bilang memang seperti itu anak kinestetik, dia baru akan percaya ketika mengalaminya sendiri 😏.

Sambil duduk Bilal masih terus bercerita, saya ajak untuk berdzikir ketika melewati jalan menanjak dan menurun.
Lalu kami bermain tebak-tebakan jalan apa yang akan kami lewati selanjutnya sambil berdzikir "Bunda, disana..jalan mendaki".
"ayo kita ucap Allahu akbar, Bilal".
" Jalan menurun..Subhanallah.."

Bilal sempat tertidur di mobil sekitar sejam lamanya.
Ketika sampai di bandara, ternyata pesawat kami delay. Kami harus menunggu sejam lagi.
Bilal bermain dengan anak-anak lainnya di area bermain anak di bandara sambil menunggu.

Di pesawat pun sama..Bilal tidak tidur dan asyik bermain, sementara bunda dan Pandanya sudah mengantuk 😌

Alhamdulillah..kami tiba di Surabaya sekitar jam 17.30.
Baru sampai di rumah eyang utinya, Bilal makin bersemangat karena
 disambut mainan puzzle hadiah dari eyang uti dan ada juga beberapa puzzle yang baru datang, hasil belanja online bundanya wkwk..


Ketika bermain puzzle Bilal menampilkan modalitas visual, saya mengamati bagaimana dia perlahan memperhatikan sisi puzzle dan mencocokkannya.
Sambil menyusun juga Bilal beberapa kali bergumam memikirkan apakah potongan puzzle yang diambilnya sudah sesuai.
Menggerakkan bibir sambil belajar termasuk ciri gaya belajar auditory.

Hasil pengamatan Senin, 5 Februari 2018 Bilal menampilkan beberapa modalitas Kinestetik, Visual, Auditory sesuai situasi dan stimulasi yang diberikan.

Share:
Continue Reading →

Senin, 05 Februari 2018

Mengamati Gaya Belajar day 1

Tantangan kali ini mengamati gaya belajar anak.
Saya dan padanya Bilal agak berbeda pandangan , hehe..
Dari awal pandanya sudah yakin Bilal condong kinestetik. Mungkin karena melihat Bilal yang hampir tidak pernah diam.
Sedangkan saya masih mengobservasi,malah merasa Bilal.menggunakan kombinasi semua gaya belajar.

Menurutku usia 2-3tahun masih dalam masa eksplorasi semua mau dicoba. Modalitas yang ditampilkan selang-seling antara kinestetik, audiotory, visual dan kombinasi.
Kebutuhan Bilal untuk motoriknya baik kasar maupun halus sedang di masa emasnya.
Jadi stimulasi yang diberikan selama masa eksplorasi itu bisa juga mempengaruhi gaya belajar, hingga nanti dia bisa menemukan sendiri  yang mana yang paling nyaman.

Hari pertama pengamatan saya dan Pandanya Bilal mengisi ceklis ini
dan ternyata condong ke kinestetik-auditory, dengan hasil 3 nilai untuk kinestetik dan 2 untuk auditory.

Sepanjang hari kami amati memang Bilal terus bergerak. Sangat jaraaaang, bahkan hampir bisa dibilang tidak pernah diam kecuali sedang tidur, hehe.. Kerjaannya berlari, berputar, melompat, dan bicaranya banyak 😁.

Eh.. ketika malam hari tiba-tiba minta spidol warna dan kertas, ternyata bisa juga khusyuk tenang menggambar.
Ada kurang lebih 10 menit tanpa suara 😁. Setelah menggambar baru dia semangat bercerita tentang apa yang dia gambar, hehe..

Ketika menggambar,modalitas yang dia tampilkan termasuk visual bukan ya?
Bilal waktu itu menggambar elang
Meski tidak sempurna, tapi bagian-bagian dari burung sudah tepat. Ada sayapnya, mata, dan paruh.
Baiklah.. mari kita lanjut mengamati lagi 😊

Share:
Continue Reading →